
Selepas Zhuhur tadi siang, beberapa jamaah celingak-celinguk, ada yang gelar sajadah lagi, ada yang milih sisi kanan masjid yang rada adem, bahkan ada yang cukup dengan menjadikan pilar sebagai sandaran tuk bertamasya sejenak ke pulau mimpi. Beberapa teman kantor sepertinya tidak mau ketinggalan.
"Yah. Ga pa palah sob, apa lagi yang paling enak dikerjakan saat “rolasan” (istirahat dari kerja di siang hari) selain tidur. Mau ngapain lagi,” kata teman saya. “Paling enak ya..tidur, apalagi tidurnya orang berpuasa kan ibadah. ..sambungnya.
“Duh..” itu lagi-itu lagi..maaf teman..bukan meremehkan, bukannya banyak perkerjaan lain yang lebih bagus..mumpung puasa. Tapi kalo emang lagi letih..ya.. mau diapain lagi.
Sebenarnya bukan hanya pada bulan Ramadhan saja, tidurnya kita bisa bernilai ibadah. Di luar-luar bulan Ramadhan juga bisa...Di siang hari kita tidur dengan harapan bisa begadang malam tuk shalat lail, itu juga bernilai ibadah...atau tidur siang karena nanti malam tugas ronda bangunin orang-orang sekomplek tuk sahur, juga ibadah..
Namun yang perlu kita perhatikan, berdasarkan hasil penelitian orang-orang yang berkecimpung khusus dalam dunia hadits Nabi saw, pernyataan yang berbunyi , “
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” Ternyata bukanlah hadits yang shahih dari Nabi saw. Berikut ini perinciannya:
Hadits di atas diriwayatkan dari Abdullah bin Aufi dan dicantumkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437.
Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perawi yang dha’if (lemah). Dalam hadits ini terdapat seorang rawi lagi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dha’if dari Ma’ruf bin Hasan.
Dalam riwayat lain, perawi hadits ini bernama Abdullah bin ‘Amr. Al Iraqi mencantumkannya dalam dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dha’if (lemah).
Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dha’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dha’if (lemah).
Trus...gimana dunk...apa kita ga boleh tidur di siang hari bulan Ramadhan? Tenang, boleh aja...seperti saya katakan tadi, tidur di siang hari itu bisa bernilai ibadah –sebagaimana tidur di
Selepas Zhuhur tadi siang, beberapa jamaah celingak-celinguk, ada yang gelar sajadah lagi, ada yang milih sisi kanan masjid yang rada adem, bahkan ada yang cukup dengan menjadikan pilar sebagai sandaran tuk bertamasya sejenak ke pulau mimpi. Beberapa teman kantor sepertinya tidak mau ketinggalan.
"Yah. Ga pa palah sob, apa lagi yang paling enak dikerjakan saat “rolasan” (istirahat dari kerja di siang hari) selain tidur. Mau ngapain lagi,” kata teman saya. “Paling enak ya..tidur, apalagi tidurnya orang berpuasa kan ibadah. ..sambungnya.
“Duh..” itu lagi-itu lagi..maaf teman..bukan meremehkan, bukannya banyak perkerjaan lain yang lebih bagus..mumpung puasa. Tapi kalo emang lagi letih..ya.. mau diapain lagi.
Sebenarnya bukan hanya pada bulan Ramadhan saja, tidurnya kita bisa bernilai ibadah. Di luar-luar bulan Ramadhan juga bisa...Di siang hari kita tidur dengan harapan bisa begadang malam tuk shalat lail, itu juga bernilai ibadah...atau tidur siang karena nanti malam tugas ronda bangunin orang-orang sekomplek tuk sahur, juga ibadah..
Namun yang perlu kita perhatikan, berdasarkan hasil penelitian orang-orang yang berkecimpung khusus dalam dunia hadits Nabi saw, pernyataan yang berbunyi , “
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ ، وَصُمْتُهُ تَسْبِيْحٌ ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ
“Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan.” Ternyata bukanlah hadits yang shahih dari Nabi saw. Berikut ini perinciannya:
Hadits di atas diriwayatkan dari Abdullah bin Aufi dan dicantumkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3/1437.
Dalam hadits ini terdapat Ma’ruf bin Hasan dan dia adalah perawi yang dha’if (lemah). Dalam hadits ini terdapat seorang rawi lagi yang bernama Sulaiman bin ‘Amr yang lebih dha’if dari Ma’ruf bin Hasan.
Dalam riwayat lain, perawi hadits ini bernama Abdullah bin ‘Amr. Al Iraqi mencantumkannya dalam dalam Takhrijul Ihya’ (1/310) dengan sanad hadits yang dha’if (lemah).
Kesimpulan: Hadits ini adalah hadits yang dha’if. Syaikh Al Albani dalam Silsilah Adh Dho’ifah no. 4696 mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits yang dha’if (lemah).
tes
vides a savvy consumer with a great selection of thehighest quality. All of the products are made from the finest materials. Thesheets are the softest available on the market. Each baby has the softest skin,and the thought of the baby resting on anything but th
tes
tes aja nih soalnya mosting2 ga bisa masuk
Sedekah Tanpa Sadar
Pencerahan memang bisa datang kapan saja. Tadi pagi, dalam perjalanan mengantarkan anak ke play group. Di sebuah persimpangan, karena warna merah pada traffic light menyala, saya berhenti. Posisi saya ketika itu agak jauh dari traffic light. Eh..tiba-tiba dari arah belakang seorang pagandeng (seorang bakul yang membawa ronjot di sebelah kanan dan kiri sepedanya) yang membawa daun pisang dalam jumlah banyak mencoba mencari celah di antara mobil dan motor yang sedang berhenti. Kelihatannya ia terburu-buru. Saking terburu-burunya, ia tidak menghiraukan kondisi jalan yang berlubang-lubang. Akibatnya, daun pisang yang ia bawa jatuh berceceran di jalan. Alhamdulillah lampu pada traffic light masih berwarna merah. Seorang pemuda yang persis berada di sampingnya mencoba menolong. Ia berusaha memunguti daun-daun pisang yang berceceran dari atas motornya. Karena anak muda ini membawa tas yang diselempangkan di bahu kanannya, ia agak kesulitan. Beberapa kali, ia hampir terjatuh dari motornya



